Laman

Wednesday, 5 October 2011

PEMBACAAN PUISI KARYA SENDIRI DARI SEGI LAFAL, INTONASI, PENGHAYATAN DAN EKSPRESI YANG SESUAI


PEMBACAAN PUISI KARYA SENDIRI DARI SEGI LAFAL, INTONASI, PENGHAYATAN DAN EKSPRESI YANG SESUAI
MAKALAH
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
KELAS XII IPA 1
EKAWATI ZAINUDDIN
FATHUR RAHMAN
IRMAYANTI IBRAHIM
ISFAWATI
FRANSISKA
                                                   
SMA NEGERI 2 BANTAENG
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
KABUPATEN BANTAENG
2011
KATA PENGANTAR

            Puji syukur atas Kehadirat Tuhan Yang Mahaesa karena atas karunia dan rahmatNya-Lah kita masih diberikan kesempatan dan kesehatan sehingga makalah yang berjudul”Pembacaan Puisi Karya Sendiri dari Segi Lafal, Intonasi, Penghayatan dan Ekspresi yang Sesuai” dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu diajukan sebagai tugas bahasa indonesia yang diberikan kepada penulis.
            Makalah ini memuat tentang pengertian puisi dan unsur-unsur puisi serta cara membaca puisi karya sendiri dari segi lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang tepat.
            Penulis sangat berterima kasih kepada guru pembimbing penulis yaitu selaku guru bidang studi Bahasa Indonesia yang telah membimbing dan memberikan arahan kepada penulis serta kepada teman-teman yang telah banyak membantu penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya.
            Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Oleh karena itu, kritik dan saran dari setiap pembaca demi penyempurnaan penulisan makalah ini.
                                                                                    Bantaeng, 19 agustus 2011

                                                                                                Penulis

           
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL                                                                                                 i
KATA PENGANTAR                                                                                               ii
DAFTAR ISI                                                                                                              iii
BAB 1 PENDAHULUAN                                                                                        1
A.    Latar Belakang                                                                                          1
B.     Rumusan Masalah                                                                                    
C.     Tujuan Penulisan
D.    Manfaat Penulisan
BAB 2 PEMBAHASAN
A.    Pengertian Puisi
B.     Cara Menulis Puisi
C.     Cara Membacakan Puisi Karya Sendiri dari Segi Lafal, Intonasi, Penghayatan dan Ekspresi yang Sesuai.
BAB 3 PENUTUP
A.    Simpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA.
LAMPIRAN


 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Puisi adalah rangkaian atau susunan kata yang indah, bermakna dan memiliki aturan serta unsur-unsur bunyi. Puisi terdiri dari diksi, gaya bahasa, dan tema. Ada dua unsur-unsur pembangun dalam puisi yaitu struktur fisik  dan struktur batin. Struktur fisik terdiri dari diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, versifikasi dan tipografi. Sedangkan struktur batin terdiri dari tema, perasaan penyair, nada dan suasana serta amanat.

Menulis puisi sangat bertolak-belakang dengan menulis artikel, kalau dalam penulisan artikel kita dituntut untuk menggunakan kata yang tegas dan tidak berbelit-belit, maka dalam puisi malah sebaliknya. Kita dituntut untuk pandai mengimprovisasikan sebuah keadaan menjadi rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan penuh dengan makna tersembunyi. Didalam membuat puisi kita harus memperhatikan gaya bahasa, rima, diksi, dan tema yang diangkat, agar puisi yang dibuat semakin bagus.

Di dalam membaca puisi terkadang kita hanya membaca seperti membaca sebuah bacaan, tidak memperhatikan cara-caranya. Puisi harus dibacakan dengan baik dan tepat yaitu dari segi lafal, intonasi dan ekspresi. Lafal adalah cara mengucapkan huruf vokal didalam sebuah puisi, intonasi adalah lagu kalimat, peruabahan tinggi rendahnya sebuah kalimat. Sedangkan ekspresi (mimik) yaitu perubahan raut muka didalam memperlihatkan perasaan tertentu didalam sebuah puisi. Hal ini penting dilakukan didalam membaca puisi karena puisi berbeda dengan membaca bacaan biasa yang hanya memmperhatikan vokal sedangkan pusi harus memperhatikan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat, agar pembacaan puisinya lebih dimaknai dan dipahami makna yang terkandung dalam puisi.

B.  Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian dari puisi?
b.      Bagaimanakah cara membuat puisi?
c.       Bagaimanakah cara membaca puisi karya sendiri dari segi lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai?

C.  Tujuan Penulisan
a.       Untuk mengetahui pengertian dari puisi.
b.      Untuk mengetahui cara membuat puisi.
c.       Untuk mengetahui cara membaca puisi dari segi lafal, intonasi, penghayatan, dan ekspresi yang sesuai.

D.  Manfaat Penulisan
a.       Memberikan informasi dalam membaca puisi dari segi lafal, intonasi dan ekspresi.
b.      Memberikan kemudahan dalam membacakan sebuah puisi yang baik dan tepat.
c.       Memberikan informasi mengenai cara membuat puisi yang baik.
d.      Sebagai sumber referensi dalam penulisan selanjutnya.






BAB 2
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.
(1)   Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
(2)   Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
(3)   Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
(4)   Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
(5)   Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur. Adapun unsur-unsur puisi berikut ini yang merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi.
(1)   Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan bahwa unsur puisi terdiri dari (1) hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima.
(2)   Waluyo (1987) yang mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.
(3)   Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989:6), meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) sifat puisi, (2) bahasa puisi: diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retorika, (3) bentuk: nilai bunyi, verifikasi, bentuk, dan makna, (4) isi: narasi, emosi, dan tema.
(4)   Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27) menyebut adanya unsur penting dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi.
(5)   Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi (1) diksi, (2) imajeri, (3) bahasa kiasan, (4) simbol, (5) bunyi, (6) ritme, (7) bentuk (Badrun, 1989:6).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi (1) tema, (2) nada, (3) rasa, (4) amanat, (5) diksi, (6) imaji, (7) bahasa figuratif, (8) kata konkret, (9) ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). Djojosuroto (2004:35) menggambarkan sebagai berikut. 
Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.
(1)    Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2)   Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3)   Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4)   Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5)   Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6)   Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
            Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut.
(1)   Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2)   Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3)   Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4)   Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya

B.  Cara Menulis Puisi
    Menulis puisi biasanya dijadikan media untuk mencurahkan perasaan, pikiran,
Pengalaman,  dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita. Langkah-langkah penciptaan puisi itu sendiri terdiri atas empat tahap penting, yaitu:
  1. Pencarian Ide, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman pribadi, sosial masyarakat, ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
  2. Perenungan, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yg menarik dari tema yg didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yg dimiliki.
  3. Penulisan, merupakan proses yg paling genting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatifitas (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendaknya mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yg tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.
  4. Perbaikan atau Revisi, yaitu pembacaan ulang terhadap puisi yg telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yg tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini terkadang memakan waktu yang cukup lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''menjadi'' tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki lagi oleh penulisnya.
Di dalam membuat puisi hal-hal yang harus diperhatikan yaitu tema, diksi, rima dan amanat. Tema merupakan gagasan pokok yang hendak  kita ungkapkan dalam puisi yang kita buat. Diksi dalam puisi yaitu kata-kata yang bersifat konotatif dan puitis. Rima juga sering disebut sajak atau persamaan bunyi, merupakan pengulangan bunyi dalam puisi untuk menghasilkan efek merdu. Gaya bahasa menyebabkan puisi menjadi segar, hidup dan menjelaskan gambaran angan.

C.  Cara Membaca Puisi dari Segi Lafal, Intonasi, Penghayatan dan Ekspresi yang Sesuai
Membaca pusi tidak sekedar membaca saja. Namun, disini harus memperhatikan beberapa syarat yaitu dari segi lafal, intonasi dan ekspresi. Apresiasi puisi dapat ditempuh dengan berbagai bentuk yaitu:
1.      Pembacaan puisi: Dititikberatkan pada pemahaman, keindahan vokal, dan ekspresi  wajah.
2.      Deklamasi puisi: Menekankan kepada ketepatan pemahaman, keindahan vokal, dan ekspresi wajah disertai dengan gerak-gerik tubuh yang lebih bebas dan ekspersi wajah yang lebih kuat.
3.      Dramatisasi puisi: Puisi dipandang sebagai suatu kesatuan peristiwa yang dapat diperagakan dalam suatu pementasan. Oleh karena itu pembaca akan memeragakan peristiwa-peristiwa dalam pusi dengan lakuan tubuh (akting) yang sesuai.
4.      Musikalisasi puisi: Puisi dinotasikan sebagaimana musik lirik puisi dijadikan syair lagu.
Pembacaan atau pendeklamasian puisi mengutamakan kejelasan, ketepatan, dan keakuratan lafal, volume, intonasi, ekspresi, gesture dan penghayatan.
1.         Lafal: cara menyembunyikan atau mengucapkan huruf (bagaimana mengucapkan misalnya f, v, p, z, j, dan sebagainya).
2.         Volume suara: tingkat kenyaringan atau kekuatan bunyi atau suara
3.         Intonasi: lagu kalimat, perubahan nada pengucapan tuturan (kata, frasa, klausa kalimat yang menimbulkan makna atau arti.
4.         Ekspresi: perubahan atau pandangan air muka (raut wajah) untuk memperlihatkan perasaan tertentu.
5.         Gestur: gerak anggota tubuh (tangan, kaki, kepala, dan sebagainya) untuk memperkuat kesan tertentu atau untuk mengungkapkan perasaan.
6.         Penghayatan: cara memahami atau memaknai sebuah puisi.
Di samping hal-hal tersebut, pembacaan puisi hendaknya didahului kegiatan memberi tanda bantu pada puisi sehingga pembacaannya tidak keliru atau menyimpang dari rencana. Tanda-tanda yang lazim digunakan dan bisa dikreasi sendiri, antara lain:
/   =  Perhentian sejenak di antara kata atau frasa tanpa menarik napas.
//  = Perhentian sesaat untuk mengambil napas (menandai koma atau titik).
/// = Perhentian relatif lebih lama untuk mengambil napas beberapa kali.
    = Nada menaik
    = Nada menurun
    = Pembacaan langsung ke baris berikutnya.
          = Pembacaan dengan tempo tinggi dan cepat.
       Pembacaan puisi dapat dikatakan berhasil apabila pendengar terhanyut dalam suasana pembacaan. Untuk mencapai tujuan itu, pembaca hendaknya berlatih dan melalui beberapa tahapan sebagai berikut.
a.       Tahap pertama, pembaca hapan secara jelas, misalnyarus mempelajari dan memahami puisi yang akan dibaca.
b.      Tahap kedua, pembaca memahami pemenggalan (jeda) baik pada kata, frasa, atau kalimat.
c.       Tahap ketiga, pembaca memahami siapa yang menjadi yang menjadi pendengarnya.
d.      Tahap keempat, pembaca harus senang terhadap puisi yang akan dibaca.
Di samping tahapan-tahapan diatas, perlu juga memperhatikan pelafalan atau pengucapan secara jelas, misalnya:
a.       Fonem diucapkan secara jelas, misalnya huruf a dengan mulut terbuka lebar.
b.      Pemberian tekanan atau aksentuasi
c.       Penekanan terhadap intonasi (nada naik, turun atau datar) secara tepat.







BAB 3
PENUTUP

A.  Simpulan
a. Puisi adalah suatu karya sastra yang memiliki arti yang yang luas, makna serta   terdapat unsur-unsur bunyi didalamnya.
b. Cara membuat puisi yaitu ada empat tahapan antara lain:
1.      Pencarian Ide, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman pribadi, sosial masyarakat, ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
2.      Perenungan, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yg menarik dari tema yg didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yg dimiliki.
3.      Penulisan, merupakan proses yg paling genting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatifitas (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendaknya mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yg tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.
4.      Perbaikan atau Revisi, yaitu pembacaan ulang terhadap puisi yg telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yg tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini terkadang memakan waktu yang cukup lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''menjadi'' tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki lagi oleh penulisnya.
c. Cara membaca puisi dari segi lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yaitu sebagai berikut.
1)      Lafal, pengucapan huruf-huruf pada puisi harus jelas dan tepat agar pendengar dapat menangkap apa yang diucapkan atau dibacakan oleh pembaca.
2)      Intonasi, perubahan nada pada puisi harus tepat tinggi rendahnya suatu puisi, agar tersampaikan dengan baik bagi pendengar.
3)      Penghayatan atau penjiwaan pada puisi, pada saat membaca puisi isi yang terkandung di dalam puisi harus dimaknai atau dihayati. Hal ini penting dilakukan agar para pendengar dapat memahami isi yang terdapat dalam puisi yang dibacakan.
4)      Ekspresi, pada pembacaan puisi ekspresi atau raut wajah harus sesuai dengan puisi yang dibacakan.

B.  Saran
Penulis berharap agar pembacaan puisi dan penciptaan puisi lebih ditingkatkan dan dikembangkan lebih luas lagi agar pembacaan dan penciptaan puisi yang dilakukan akan menjadi lebih bagus dan lebih baik.





DAFTAR PUSTAKA

Marsudi, Demas. 2009. Bahasa dan Sastra Indonesia 3. Surakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Setiyono, Agus. 2009. Piawai Berbahasa Cakap Bersastra Indonesia: Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Setiawan. 2010. “Definisi dan Unsur-unsur Puisi”. Dalam http://www.google.com
            Online pada tanggal 4 september 2011

No comments:

Post a Comment